Thursday, December 6, 2012

Ketika Derita Mengabadikan Cinta


Assalamu'alaikum' Wr' Wb'

Sekadar forward, kisah ini untuk renungan kita bersama.
Teman2 semoga dari hikmah kisah ini bermanfaat untuk mewujudkan
keluarga
sakinah mawaddah warohmah.
Amiin.

Wassalam,

Ketika Derita Mengabadikan Cinta

"Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk
kedua
mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh
Hasan
Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Dikrektur
Rumah
Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di Timur Tengah,
yang
tak lain adalah juga dosen kedua mempelai. Kepada Professor
dipersilahkan.
.."



Suara pembawa acara walimatul urusy itu menggema di seluruh ruangan
resepsi
pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi
sungai
Nil, Kairo.

Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan
disampaikan pakar syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti-
nanti
mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan
kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering nongol
di
televisi itu.

Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih
melangkah
menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan
wibawa.
Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia memang seorang
ilmuan
berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat, mengisyaratkan pribadi
yang
tegas. Begitu sampai di podium, kamera video dan lampu sorot
langsung
shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh
gagang
kacamatanya, lalu...

Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu'ala Rasulillah, amma
ba'du.
Sebelumnya saya mohon ma'af , saya tidak bisa memberi nasihat
lazimnya
para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada kesempatan
kali ini
perkenankan saya bercerita...
Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan
bukan
cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai
harganya,
yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. Harapan
saya,
mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan Allah bisa
mengambil
hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambilah mutiaranya dan
buanglah
lumpurnya.

Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras,
melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan
kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya.
Tiga puluh tahun yang lalu ...
Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan
menengah ke
atas. Ayah saya seorang perwira tinggi, keturunan "Pasha" yang
terhormat
di negeri ini. Ibu saya tak kalah terhormatnya, seorang lady dari
keluarga
aristokrat terkemuka di Ma'adi, ia berpendidikan tinggi, ekonom
jebolan
Sorbonne yang memegang jabatan penting dan sangat dihormati kalangan
elit
politik di negeri ini.

Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup
dalam
suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. Perjalanan hidup
sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat.
Keluarga
besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan aristokrat atau
kalangan high class yang sepadan!

Entah kenapa saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini.
Saya
merasa terkukung dan terbelenggu dengan strata sosial yang didewa-
dewakan
keluarga. Saya tidak merasakan benar hidup yang saya cari. Saya
lebih
merasa hidup justru saat bergaul dengan teman-teman dari kalangan
bawah
yang menghadapi hidup dengan penuh rintangan dan perjuangan. Hal ini
ternyata membuat gusar keluarga saya, mereka menganggap saya ceroboh
dan
tidak bisa menjaga status sosial keluarga. Pergaulan saya dengan
orang
yang selalu basah keringat dalam mencari pengganjal perut dianggap
memalukan keluarga. Namun saya tidak peduli.

Karena ayah memperoleh warisan yan sangat besar dari kakek, dan ibu
mampu
mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka kami hidup mewah dengan
selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa berlibur ke luar
negri,
ke Paris, Roma, Sydney atau kota besar dunia lainnya. Jika berlibur
di
dalam negeri ke Alexandria misalnya, maka pilihan keluarga kami
adalah
hotel San Stefano atau hotel mewah di Montaza yang berdekatan dengan
istana Raja Faruq.

Begitu masuk fakultas kedokteran, saya dibelikan mobil mewah.
Berkali-kali
saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil biasa saja,
agar
lebih enak bergaul dengan teman-teman dan para dosen. Tetapi beliau
menolak mentah-mentah.

"Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa saja" tegas
ayah.

Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya membantah
habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di
hati,
saya parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah.

Ketika itu saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang
penuh
pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan,
dan
kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya menangkap dalam
relung
hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara. Kecantikan
dan
kecerdasannya sangat menajubkan. Ia gadis yang beradab dan
berprestasi,
sama seperti saya.

Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa
telah
menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk menempatkan
cinta
ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu ikatan pernikahan.
Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi di fakultas. Maka
datanglah saat untuk mewujudkan impian kami berdua menjadi
kenyataan. Kami
ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang lurus.

Saya buka keinginan saya untuk melamar dan menikahi gadis pujaan
hati pada
keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu, dan
saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan,
dan
kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam memilih warna
pakaian
serta tutur bahasanya yang halus.
Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu
saya
beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan membanting
gelas
yang ada di dekatnya. Bahkan beliau mengultimatum: Pernikahan ini
tidak
boleh terjadi selamanya!

Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup rencana pernikahan
dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak
saya
nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang
tak
terkira.

Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku
sedemikian sadis? Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu tukang
cukur....tukang cukur, ya... sekali lagi tukang cukur! Saya katakan
dengan
bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki sejati.
Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya dengan baik
kepada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak banyak
dilakukan para bangsawan "Pasha". Lewat tangannya ia lahirkan tiga
dokter,
seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun dia sama sekali tidak
mengecap bangku pendidikan.

Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah. Saya berdiri
sendiri, tidak ada yang membela. Pada saat yang sama adik saya
membawa
pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui. Ayah ibu
langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta pernikahannya sebesar
500
ribu ponds. Saya protes kepada mereka, kenapa ada perlakuan tidak
adil
seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di jalan yang lurus
tidak
direstui, sedangkan adik saya yang jelas-jelas telah berzina,
bergonta-ganti pacar dan akhirnya menghamili pacarnya yang entah
yang ke
berapa di luar akad nikah malah direstui dan diberi fasilitas maha
besar?
Dengan enteng ayah menjawab. "Karena kamu memilih pasangan hidup
dari
strata yang salah dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan
pacar
adik kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat
keluarga besar Al Ganzouri."
Hadirin semua, semakin perih luka dalam hati saya. Kalau dia bukan
ayah
saya, tentu sudah saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda
kiamat
sudah dekat, yang ingin hidup bersih dengan menikah dihalangi, namun
yang
jelas berzina justru difasilitasi.

Dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan
hidup
saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan pasangan
bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-apa selain
menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya
yakini
kebenarannya. Itu saja.

Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya.
Dengan
penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan
harapan
beliau berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la haula wala
quwwata
illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah mengetahui
penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak mentah-mentah untuk
mengawinkan
putrinya dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya dengan reaksi
lebih
keras, beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad
menikah
dengan saya.

Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak
pernikahan
ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan keluarga dia
menolak
karena alasan membela kehormatan.

Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan
bertanya
kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta?

Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri
penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke
kantor
ma'dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai 3 orang sahabat
karibku.
Kami berikan identitas kami dan kami minta ma'dzun untuk
melaksanakan akad
nikah kami secara syari'ah mengikuti mahzab imam Hanafi.
Ketika Ma'dzun menuntun saya, "Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya
terima
nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan mahar yang
kita
sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam Abu Hanifah."

Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air mata
3
sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah
itu.
Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah di
mata
Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar menyiapkan
kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir.
Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah
kami
membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan mata.
Begitu
mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari rumah. Mobil dan
segala fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari rumah tanpa
membawa
apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa potong pakaian dan uang
sebanyak 4 pound saja! Itulah sisa uang yang saya miliki sehabis
membayar
ongkos akad nikah di kantor ma'dzun.

Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih
tragis
lagi ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang sebanyak 2
pound,
tak lebih! Total kami hanya pegang uang 6 pound atau 2 dolar!!!

Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound? Kami berdua
bertemu di
jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat
pada
puncak musim dingin. Kami menggigil, rasa cemas, takut, sedih dan
sengsara
campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-
kaca
bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang ,
rasa
berdaya dan hidup menjalari sukma kami.
"Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti
ini.
Maafkan Kanda!"
"Tidak... Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh benar. Kita
telah
berpikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak bisa
menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berpikir anak
kecil.
Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan tindakan mereka
salah.
Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita tempuh ini.
Percayalah, insya Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama
kanda
tetap setia membawa dinda ke jalan yang lurus. Kita akan buktikan
kepada
mereka bahwa kita bisa hidup dan jaya dengan keyakinan cinta kita.
Suatu
ketika saat kita gapai kejayaan itu kita ulurkan tangan kita dan
kita
berikan senyum kita pada mereka dan mereka akan menangis haru.
Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya air mata derita
kita
saat ini," jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan.

Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri saya. Lahirlah
rasa
optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika.
Apalagi
teringat bahwa satu bulan lagi kami akan diangkat menjadi dokter.
Dan
sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan menerima
penghargaan
dan uang sebanyak 40 pound.

Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk
di
emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa. Dalam
kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak
mungkin
kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang juga. Dengan
sisa
uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah toko selama 24 jam.

Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman
sebanyak 50
pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala kadarnya
yang
murah.

Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami disadarkan
kembali
bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus
mengarunginya
berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih sayang dan
perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah SWT.

Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami
berhasil
menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah.
Bagi
kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin dipandang sepantasnya
adalah
untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan rumah binatang
kesayangan
mereka mungkin lebih bagus dari rumah kontrakan kami.

Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu,
jika
seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh ia bagai
mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah sedang
membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang jaminan
dan
uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari 25 pound saja
untuk
3 bulan.

Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah kesana. Lalu
kami
pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih dari
sebuah
kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua kursi
dan
satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua cangkir dari tanah,
itu
saja... tak lebih.

Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa
tetap
bahagia, karena kami selalu bersama. Adakah di dunia ini kebahagiaan
melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup
bahagia
adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang-orang di dunia
merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah menjanjikan cinta.
Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya
persetubuhan
cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah untuk
memberikan
gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah di surga. Jika
percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh lebih nikmat
dari
semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa dibayangkan. Yang paling
nikmat adalah cinta yang diberikan oleh Allah kepada penghuni
surga , saat
Allah memperlihatkan wajah-Nya. Dan tidak semua penghuni surga
berhak
menikmati indahnya wajah Allah SWT.

Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur'an
dan
Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang
berhak
memperoleh segala cinta di surga.
Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus
mendekatkan diri kepada-Nya.

Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur'an, lalu memakai jilbab, dan
tiada
putus shalat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi Rabi'ah
Adawiyah
yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang ia
adalah
dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia memang wanita
yang
berkarakter dan berkepribadian kuat, ia bertekad untuk hidup berdua
tanpa
bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia juga seorang wanita yang
pandai
mengatur keuangan. Uang sewa sebanyak 25 poud yang tersisa setelah
membayar sewa rumah cukup untuk makan dan transportasi selama
sebulan.

Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan
kamipun
mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan
derita
hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-sampai ada
yang
bilang tanpa disengaja,"Ah, kami kira para dokter itu pasti kaya
semua,
ternyata ada juga yang melarat sengsara seperti Mamduh dan
isterinya."
Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak mengurangi
nestapa
kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan kecil
layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri agar
menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena kami memang
dokter
yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dokter. Ada yang membantu
membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan pertolongan-
pertolongan
mereka.

Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan
yang kami
terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak
terpanggil
sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami. Yang lebih
menyakitkan
mereka tidak membiarkan kami hidup tenang.

Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami
digedor
dan didobrak oleh 4 bajingan kiriman ayah saya. Mereka merusak
segala
perkakas yang ada. Meja kayu satu-satunya, mereka patah-patahkan,
begitu
juga dengan kursi. Kasur tempat kami tidur satu-satunya mereka
robek-robek. Mereka mengancam dan memaki kami dengan kata-kata
kasar. Lalu
mereka keluar dengan ancaman, "Kalian tak akan hidup tenang, karena
berani
menentang Tuan Pasha."

Yang mereka maksudkan dengan Tuan "Pasha" adalah ayah saya yang kala
itu
pangkatnya naik menjadi jendral. Ke-empat bajingan itu pergi. Kami
berdua
berpelukan, menangis bareng berbagi nestapa dan membangun kekuatan.
Lalu
kami tata kembali rumah yang hancur. Kami kumpulkan lagi kapas-kapas
yang
berserakan, kami masukan lagi ke dalam kasur dan kami jahit kasur
yang
sobek-sobek tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku yang
berantakan. Meja
dan kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki. Lalu kami tertidur
kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah eratnya genggaman
inilah
sumber rasa aman dan kebahagiaan yang meringankan intimidasi hidup
ini.

Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan membiarkan kami hidup
tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah
merancang
skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan tuduhan wanita
tuna
susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen militer di negeri
ini.
Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang berada di
telapak
kaki mereka. Saya hanya bisa pasrah total kepada Allah mendengar hal
itu.

Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak
mengurungkan
niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman karibku berhasil
memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil membujuk saya agar
menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk bersabar dan tidak
menjalankan skenario itu , sebab kalau itu terjadi pasti
pemberontakan
saya akan menjadi lebih keras dan bisa berbuat lebih nekad.

Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil
meminta
beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai
isteriku.
Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu, sampai ayah
turun
marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara saya bisa
mempersiapkan
segala sesuatu lebih matang.

Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu
tahun
penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang saya takutkan,
tidak
ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6 pound setiap
bulan.
Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang sangat saya cintai.
Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur karena memikirkan
keselamatan
isteri tercinta.

Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan
hamba-hamba- Nya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia
mendapatkan kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah
kami.
Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat
Allah
SWT.

Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu
kepada
kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan keindahan.
Malam
itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Ia
tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya teringat puisi
seorang
penyair Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan pendamping
setia &
lepas dari belenggu derita:

Sambil menatap kaki langit
Kukatakan kepadanya
Di sana... di atas lautan pasir kita akan berbaring
Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba
Bukan karna ketiadaan kata-kata
Tapi karena kupu-kupu kelelahan
Akan tidur di atas bibir kita
Besok, oh cintaku... besok
Kita akan bangun pagi sekali
Dengan para pelaut dan perahu layar mereka
Dan akan terbang bersama angin
Seperti burung-burung

Yah... saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari
nestapa
dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta. Namun dia
ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih keras untuk masuk
program
Magister bersama!

"Gila... ide gila!!!" pikirku saat itu. Bagaimana tidak...ini adalah
saat
paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan
sebagai
dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang tidak
berperasaan. Tetapi istri saya tetap bersikukuh untuk meraih gelar
Magister dan menjawab logika yang saya tolak:

"Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita dan mendapat
tawaran
dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya, kita harus
sabar
sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam
kebahagiaan.
Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak sekalian kita
rengguk
sum-sum penderitaan ini. Kita sempurnakan prestasi akademis kita,
dan kita
wujudkan mimpi indah kita."

Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau
ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku
pun
luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan
kekuatan jiwanya.

Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan mulailah kami
memasuki
hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan, sementara
kebutuhan
kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek, buku, dll. Nyaris
kami
hidup laksana kaum Sufi, makan hanya dengan roti dan air. Hari-hari
yang
kami lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam
hari
kami lalui bersama dengan perut kosong, teman setia kami adalah air
keran.

Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama
dalam
suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, kami obati
dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa uang
untuk
beli buku kami ambil untuk pengganjal perut.

Siang hari, jangan tanya... kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan
itu,
terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan.

Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah
menyesal
atau mengeluh sedikitpun. Tidak pernah saya melihat istri saya
mengeluh,
menagis dan sedih ataupun marah karena suatu sebab. Kalaupun dia
menangis,
itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi dia malah lebih kasihan
kepada
saya. Dia kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup
mewah,
tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya gelandangan.

Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang
asalnya
hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di rumah
kontrakan
yang kumuh dan makan ala kadarnya.

Timbal balik perasaan ini ternya menciptakan suasana mawaddah yang
luar
biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan rasa
sayang, hormat, dan cinta yang mendalam padanya.

Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya
adalah
wajah istri saya yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya dalam-
dalam.
Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan, dia akan
mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh cinta
dengan
senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan terlupakan
semua.
Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di dunia ini.

"Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang..." bisiknya mesra
sambil
tersenyum.

Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara.

Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih
gelar
Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja! Namun,
kami
belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister pun kami
masih
hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada istilah makan
enak
dalam hidup kami.

Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami
berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan
untuk
pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka, kami
mengenal
hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang mewah, merasakan
kembali
tidur di kasur empuk dan kembali mengenal masakan lezat.

Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di
Heliopolis, Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir
setelah
memiliki rumah yang layak. Tetapi istriku memang 'edan'. Ia kembali
mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program Doktor
Spesialis di London, juga dengan logika yang sulit saya tolak:

"Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita
lalui,
dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil gelar Doktor
di
London. Setelah bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak ada
salahnya
kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil merasakan hidup
di
negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah menyediakan dana
tambahan."

Kucium kening istriku, dan bismillah... kami berangkat ke London.
Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol
gelar
Doktor dari London. Saya spesialis syaraf dan istri saya spesialis
jantung.

Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak
kerja baru
di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya diangkat
sebagai
direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai wakilnya! Kami juga
mengajar
di Universitas.

Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai
dia
dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam suka
dan
duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan.

Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo setelah
sebelumnya
menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali laksana raja dan
permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini kami
hidup
bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah lebih dari 9 tahun hidup
menderita, melarat dan sengsara.

Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah
swt
dan bertambahlan rasa cinta kami.

Ini kisah nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat hidup. Jika
hadirin
sekalian ingin tahu istri saleha yang saya cintai dan mencurahkan
cintanya
dengan tulus, tanpa pernah surut sejak pertemuan pertama sampai saat
ini,
di kala suka dan duka, maka lihatlah wanita berjilbab biru yang
menunduk
di barisan depan kaum ibu, tepat di sebelah kiri artis berjilbab
Huda
Sulthan. Dialah istri saya tercinta yang mengajarkan bahwa
penderitaan
bisa mengekalkan cinta. Dialah Prof Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz..."

Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok
perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru.
Perempuan
itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga merekam mata
Huda
Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru kedua mempelai, dan
segenap hadirin yang menghayati cerita ini dengan seksama.

--- End forwarded message ---
============ ========= ========= ========= ========= ========= =======XXX

sumber : tidak tahu

No comments:

Post a Comment